unescoworldheritagesites.com

Luncurkan Peta Jalan Aksesi Mei 2024, Menko Airlangga Harapkan Indonesia jadi Anggota Penuh OECD dalam 3 Tahun - News

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan didampingi Menteri Pemuda Dan Olahraga Dito Ariotedjo (kanan) dan Wakil Menteri Luar Negeri Pahala Mansury (kiri) saat konferensi pers Diskusi Aksesi Indonesia bersama para delegasi negara anggota OECD di Jakarta, Rabu (28/2/2024). (ekon.go.id)

: Menindaklanjuti cacatan sejarah baru sebagai negara pertama Asia Tenggara yang diundang untuk membuka diskusi aksesi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia melakukan penyusunan Peta Jalan Aksesi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, Peta Jalan Aksesi yang telah disusun tersebut rencananya akan diluncurkan pada Pertemuan Tingkat Menteri OECD di bulan Mei 2024 mendatang.

Menko Airlangga menambahkan, setelah peluncuran Peta Jalan Aksesi itu selanjutnya dilakukan proses penyelerasan kebijakan dan standar regulasi. Penyusunan Peta Jalan Aksesi akan dimulai dengan pemetaan gap kebijakan Indonesia dengan standar OECD.

“Tentu kita berharap proses menjadi anggota OECD ini bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 tahun. Beberapa negara yang berpengalaman masuk dalam 3 tahun antara lain Chile, Estonia, Slovenia, Latvia, Lithuania,”  kata Menko Airlangga dalam acara Dinner Reception In Conjunction With Indonesia’s Accession to The OECD With OECD Heads of Mission in Jakarta, Rabu (28/2/2024).

Baca Juga: Soroti Poin Krusial Produktivitas Sawit Rakyat, Menko Airlangga Usulkan Kenaikan Dana Bantuan untuk Replanting

Menurut Menko Airlangga, dengan referensi kebijakan dan standar luas di berbagai sektor yang dimiliki OECD, proses aksesi Indonesia diharapkan mampu mendukung reformasi struktural yang berkelanjutan di Indonesia, serta mendukung penyempurnaan kebijakan dan regulasi sesuai referensi yang unggul.

Selajutnya, penyesuaian standar dan kebijakan juga akan berpengaruh pada peningkatan tingkat kepercayaan global, peningkatan perdagangan dan investasi, terutama terhadap kolaborasi teknologi dan inovasi, membuka akses pasar bagi ekspor dalam negeri, meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan, lapangan kerja dan infrastruktur.

Hingga saat ini, OECD sendiri memiliki 38 negara anggota yang mencerminkan sekitar 60% nilai PDB dan perdagangan global. Indonesia melengkapi 6 negara kandidat aksesi OECD lainnya yakni Argentina, Brazil, Bulgaria, Kroasia, Peru, dan Romania.

Seperti dilansir siaran pers Kemenko Perekonomian, Indonesia berpotensi menjadi negara ke-3 yang berasal dari Asia, setelah Jepang dan Korea, serta negara Pertama di Asia Tenggara yang menjadi anggota OECD. Menjadi Key Partner OECD sejak 2007, Indonesia telah memiliki Framework Cooperation Agreement dan Joint Work Programme, yang disusun berdasarkan prioritas nasional dan kepentingan strategis Pemerintah Indonesia

Baca Juga: Airlangga Nyatakan Golkar Tugaskan Ridwan Kamil dan Ahmed Zaki Iskandar Maju di Pilkada DKI Jakarta, Musa Rajekshah di Sumut

Menindaklanjuti intensi Pemerintah Indonesia, Dewan OECD telah memutuskan untuk membuka diskusi aksesi dengan Indonesia sejak tanggal 20 Februari 2024.

“Ini adalah peristiwa penting bagi anggota dan mitra OECD. Sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang diundang untuk membuka diskusi aksesi OECD dan ekonomi terbesar di kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, Indonesia bertekad untuk memperdalam integrasi dan membuka jalan transformatif menuju pertumbuhan dan ketahanan untuk seluruhnya,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

Dalam kesempatan tersebut, 33 perwakilan negara anggota OECD turut menyampaikan dukungan bagi Indonesia terhadap proses diskusi aksesi yang akan berlangsung. Memiliki modalitas sebagai negara demokrasi yang besar, ekonomi yang stabil, dan implementasi good governance, sejumlah negara anggota optimis bahwa Indonesia mampu menjadi keanggotaan penuh OECD.

Selain itu, perwakilan negara anggota tersebut juga meyakini bahwa proses aksesi akan membawa dampak positif bagi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia sebagai fundamental mendukung tercapainya Indonesia Emas 2045.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat