unescoworldheritagesites.com

Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Harus Mampu Menembus Pasar yang Baru - News

Rapimnas HIMKI di Solo, Jawa Tengah.

 
 
: Industri mebel dan kerajinan Indonesia harus mampu menembus pasar yang baru, menyusul makin menurunnya permintaan pasar tradisional (AS dan Eropa). Akibat kedua kawasan itu mengalami inflasi yang sangat besar. 
 
Sesungguhnya permintaan industri mebel dan kerajinan, terus tetap tumbuh. Namun, sayangnya dengan pemasok utama China. 
 
Untuk itu, peran Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) sangat penting. Karena, sebenarnya peluang pasar global terhadap produk mebel dan 
kerajinan masih terbuka. 
 
 
Semua itu mengemuka pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), di Hotel Grand Mercure, Solo, Jawa Tengah, pada Jumat - Sabtu (16 - 17/6/2023).

Hadir pada kegiatan bertajuk 'Perkuat Soliditas Organisasi untuk Mendukung Akselerasi 
Pertumbuhan Industri Mebel dan Kerajinan Nasional',  Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pembina, Dewan Pakar, serta Ketua Dewan 
Pimpinan Daerah dan Badan Eksekutif baik Pusat maupun Daerah se-Indonesia. 
 
Pada kesempatan itu, Sekretaris Jenderal HIMKI Heru Prasetyo mengemukakan, Rakernas diadakan di Solo, sebab kota ini memiliki potensi sangat besar, di mana 60 persen dari pelaku UKM berada di wilayah Jawa Tengah. 
 
 
Tujuan Rapimnas ini adalah melaksanakan amanat Anggaran Rumah Tangga (ART) HIMKI dan mengevaluasi Program Kerja HIMKI, hasil rekomendasi Rakernas dan Rapimtas sebelumnya. Yang akan disesuaikan dengan prioritas kebutuhan dan kondisi aktual yang berkembang.
 
Heru juga menyebutkan, masih terbukanya peluang pasar global terhadap produk mebel dan kerajinan, disebabkan maraknya pembangunan, yang diproyeksikan akan menciptakan permintaan, yang cukup besar akan produk mebel dan kerajinan nasional.
 
Maka sesungguhnya, kata dia permintaan tetap tumbuh, kendati kondisi perekonomian dunia belum pulih akibat kondisi geopolitik. 
 
 
Memang, lanjutnya, data menunjukan pada kuartal pertama tahun ini, ekspor mebel dan kerajinan mengalami penurunan. "Kami berharap adanya pameran IFEX  pada Maret lalu, bisa menahan penurunan ekspor itu pada kuartal selanjutnya," harap Heru. 
 
Diakuinya, sampai saat ini pasar AS dan Eropa adalah pasar terbesar produk mebel dan kerajinan nasional. "Karenanya, kita harus terus berusaha untuk menembus pasar-pasar baru," ujarnya. 
 
Untuk mengantisipasi jika situasi makin memburuk, kita harus memanfaatkan dan mengoptimalisasi emerging market, seperti Timur Tengah, India dan pasar Asia lainnya.
 
 
Berbagai langkah dibahas di Rakernas ini, mengingat industri mebel dan kerajinan adalah industri masa depan bagi Indonesia. Karena, memiliki potensi pengembangan yang sangat besar, baik dari sisi bahan baku, sumberdaya manusia (SDM), maupun serapan pasarnya.
 
Industri mebel dan kerajinan merupakan salah satu industri prioritas, yang menghasilkan 
produk bernilai tambah tinggi, berdaya saing global. Sebagai penghasil devisa negara 
serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang signifikan. Didukung sumber bahan baku yang cukup berupa kayu, rotan maupun bambu. 
 
Daya saing industri furniture dan kerajinan Indonesia di pasar global, terletak pada sumber bahan baku alami yang melimpah dan berkelanjutan, serta didukung  keragaman corak dan desain yang berciri khas lokal, tambah lagi, ditunjang SDM yang kompeten.***
 
 
 
 

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat