unescoworldheritagesites.com

Majelis Hakim PN Jakarta Utara Diminta Cermat Pertimbangkan Dua Visum yang Isinya Berbeda demi Keadilan - News

Penasihat hukum Michael Remizaldy Jakobus SH MH.

:  Penasihat hukum terdakwa kasus dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Edrick Tanaka Tan atau ETT, Michael Remizaldy Jakobus SH MH, menilai agak janggal visum et repertum saksi korban Susanty Astra. Selain ada dua dari dua rumah sakit berbeda, isinya juga berbeda-beda.

Visum yang dibuat di rumah sakit yang ditunjuk penyidik Kepolisian menyebutkan bahwa luka yang dialami saksi korban tidak menghalanginya beraktivitas. Sedangkan visum dari rumah sakit swasta yang 20 hari setelah kejadian baru dibuat justru menunjukan kekerasan yang dialami tersebut membuatnya tidak bisa beraktivitas.

Pembuatan visum kedua ini bukan atas petunjuk penyidik Kepolisian. Melainkan atas kemauan saksi korban sendiri dengan menunjukan rekam medisnya.

Baca Juga: Terdakwa KDRT Kini Hanya Bisa Menyesali Perbuatannya Usai Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada istrinya

"Kedua visum itu dijadikan bukti dalam persidangan. Hal itu tentu membuat rancu keadaan sebenarnya dan tentunya bertentangan dengan ketentuan yang berlaku," tutur Michael usai membacakan pledoi atau pembelaannya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Selasa (9/7/2024).

Atas fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan tersebut, Michael meminta majelis hakim pimpinan Dr I Wayan I Gede Image SH MH dengan anggota Iwan Irawan SH MH dan Sontang Sinaga SH MH agar cermat mempertimbangkan semua fakta yang terungkap dalam persidangan. Oleh karena sesuai fakta-fakta itulah kejadian yang sebenarnya.

Edrick juga menyoroti ulah ibunya saksi korban, yang berguling-gulingan seraya teriak-teriak di ruang sidang. "Diduga ada upaya pihak korban mendramatisasi kasus KDRT ini. Agendanya pledoi, kok sempat-sempatnya ibu saksi pelapor berguling-guling di ruang sidang," katanya.

Baca Juga: Segera Di Sidang di PN Jakarta Utara, Perjuangan Ibu Korban KDRT Menyeret Suaminya ke Pengadilan Membuahkan Hasil

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dawin Sofian Gaja SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara sebelumnya menuntut dua tahun penjara terdakwa  ETT.

Atas tuntutan itu baik terdakwa ETT maupun penasehat hukumnya, Michael Remizaldy Jakobus SH MH dan Sihar Natanael Nababan SH MH menilainya sangatlah berlebihan.

Edrick sebelumnya menyebutkan, dirinya sakit hati ketika mendengar orangtuanya mendapat kekerasan dari istrinya, Susanty Astra yang merupakan saksi korban sekaligus pelapor.

Baca Juga: Caleg DPR RI Nofel Saleh Hilabi Beri Apresiasi Polisi, Penjarakan Pegawai BNN KDRT Istri

“Siapa yang tidak marah Pak kalau dengar orangtua mendapat kekerasan dari menantunya. Siapapun kalau orangtuanya dipukul, pasti marah,” katanya.

Demikian pula halnya dengan Edrick. Mendengar orangtuanya dipukul, secara reflek dia memukul pelapor yang juga istrinya tersebut.

“Bekas isteri ada tapi bekas orangtua tidak ada,” demikian alasannya. Atas dasar itu pula dirinya menggugat cerai istrinya tersebut ke Pengadilan Agama Jakarta Utara.***

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat