unescoworldheritagesites.com

MAKI Desak KPK Pastikan Harun Masiku Hidup Atau Mati - News

buronan Harun Masiku

JAKARTA: Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mendesak KPK untuk segera membekuk buronan penyuap eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Harun Masiku, dalam keadaan hidup atau mati.

"Saya meyakini bahwa Harun Masiku sudah meninggal. Namun begitu KPK tetap harus memastikannya, apakah dia masih dalam keadaan hidup atau sudah meninggal," kata Boyamin di Jakarta, Minggu (1/11/2020).

MAKI menilai publik menanti-nanti KPK bisa menangkap Harun Masiku yang buron sejak 17 Februari 2020 lalu. "Masyarakat menunggu KPK mampu menangkap Harun Masiku karena dimensi politiknya lebih kental," katanya.

Boyamin mengatakan, apabila nanti benar bahwa KPK menemukan Harun dalam kondisi meninggal dunia, tetap diminta untuk menelusuri penyebabnya. Apakah meninggalnya Harun ada pihak yang menghendaki atau tidak. "Proses meninggalnya Harun Masiku ada yang menghendaki atau tidak? Perlu didalami siapa-siapa pihak yang diuntungkan dengan meninggalnya Harun Masiku," ujarnya.

Alasan Boyamin bahwa Harun Masiku meninggal karena sampai sekarang tidak ada suatu pertanda Harun Masiku masih hidup. Namun masyarakat masih menunggu KPK mampu menemukan dan menangkap Harun jika masih hidup," ujarnya.

Jika Harun tak bisa ditangkap, tentu menjadi catatan buruk bagi KPK periode saat ini. Dia meminta ada evaluasi terhadap pimpinan KPK bila memang Harun tak kunjung ditangkap. "Kalau tidak mampu berarti KPK sekarang ini semakin buruk kinerjanya. Perlu juga dievaluasi kinerjanya KPK sekarang tidak hanya semata-mata satgasnya dievaluasi, pimpinan KPK kalau perlu juga dievaluasi," tuturnya.

Indonesia Corruption Watch (ICW) juga mengkritik kinerja KPK dalam memburu buronan Harun Masiku. KPK dinilai bukan tidak mampu, tapi tidak mau menangkap bekas calon legislatif PDIP tersebut. "ICW sudah memiliki keyakinan bahwa KPK bukan tidak mampu untuk meringkus eks calon legislatif asal PDIP itu akan tetapi memang tidak mau," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhana.

Kurnia mengatakan rekam jejak dan reputasi KPK sebelumnya sangat baik dalam pencairan buronan. Namun, performa itu turun di masa Firli Bahuri. Tim Satuan Tugas yang selama ini bertugas mencari Harun dinilai tidak efektif.  Tim penyidik yang melakukan upaya operasi tangkap tangan terhadap Harun diduga sempat ditahan oleh anggota polisi saat memburunya sampai ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Tim ini kemudian diganti oleh tim lainnya. Dua pegawai KPK yang terlibat dalam upaya penangkapan itu, yakni Jaksa Yadyn Palebangan dan Komisaris Rossa Purbo Bekti dikembalikan ke institusi asalnya. Rossa menolak dan belakangan bisa kembali bekerja di KPK.

Kurnia meminta Dewan Pengawas (Dewas) KPK untuk turun tangan mencari penyebab lambatnya kerja KPK dalam memburu Harun. "Misalnya dengan memanggil Ketua KPK dan Deputi Penindakan untuk dimintai keterangan terkait kendala-kendala yang dihadapi untuk menemukan dan menangkap Harun Masiku," ujarnya.***

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat