unescoworldheritagesites.com

Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat Pada Selasa ini - News

Kualitas udara di Jakarta tercatat tidak sehat pada Selasa pagi (9/7/2024) versi survei IQAir.

 

SUARAKARYA. ID: Sekalipun hujan cukup lebat pada Senin malam (8/7/2024), namun kualitas udara di Jakarta pada Selasa pagi (9/7/2024) ini masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif menempati peringkat tujuh sebagai kota dengan udara terburuk di dunia versi situs pemantau kualitas udara IQAir.

Berdasarkan pemantauan pada Selasa pagi pukul 06.07 WIB, kualitas udara di DKI Jakarta masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif dengan Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/ AQI) di angka 123

Sedangkan konsentrasi materi partikel (PM2.5) berada pada angka 44,5 mikron gram per meter kubik.

Angka PM2.5 itu setara 8,9 kali di atas nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Baca Juga: Kamis Pagi ini, Kualitas Udara Jakarta Raya Berada di Tiga Terburuk di Dunia

Adapun kategori tidak sehat, yakni kualitas udaranya yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Situs tersebut juga merekomendasikan agar masyarakat menghindari beraktivitas di luar ruangan, jika berada di luar ruangan gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

Sementara itu, dari data yang sama, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia urutan pertama yaitu Kinshasa (Kongo) di angka 191, urutan ketiga yaitu Lahore ​​​​​​(Pakistan) di angka 172, urutan ketiga Dubai (Uni Emirat Arab) di angka 153, keempat Baghdad (Irak) di angka 145, dan yang kelima yaitu Santiago (Cile) dengan angka 134.

Baca Juga: Kualitas Udara Jakarta Raya Sangat Tidak Sehat, Hindari Aktivitas di Luar Ruangan

Sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 593 Tahun 2023 tentang Satuan Tugas Pengendalian Pencemaran Udara sebagai kebijakan untuk mempercepat penanganan polusi udara.

Namun Kepgub tersebut dinilai sejumlah tidak efektif. Sebab, pencemaran di Jakarta masih terjadi, bahkan semakin mengkhawatirnya.

Terkait pencemaran ini dokter spesialis paru-paru Eka Hospital BSD dr Astri Indah Prameswari, SpP, menyatakan tingkat polusi udara yang tinggi bisa memicu penyakit infeksi saluran pernafasan akut. Jika dibiarkan, bisa berujung pada penyakit yang lebih parah," ujar Astri.***

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat