unescoworldheritagesites.com

Berita Bohong atau Hoaks Stagnan Jika Penegak Hukum Bertindak Tegas, ' Gitu aja Kok Repot ' - News

Yacob Nauly - Berita Bohong atau Hoaks  Stagnan Jika Penegak Hukum Bertindak Tegas, ' Gitu aja Kok Repot ' (Redaksi suarakarya.id)


Oleh Yacob Nauly

: Jangan membuat sulit sesuatu yang sebenarnya tidak susah alias mudah diselesaikan.

Gitu aja kok repot?" Penulis mengenang kembali ungkapan atau   kalimat  tersebut yang melekat dengan sosok Presiden RI ke-4 Gus Dur.

Dalam buku "Jejak Sang Guru Bangsa" halaman 101, M. Hamid menulis:

Ungkapan Gus Dur yang akrab di telinga kita yakni "Gitu Aja Kok Repot" itu bukan sekadar guyonan.

Namun mempunyai makna yang cukup dalam. Kata-kata itu berasal dari fikih Islam; "Yasir Wa La Tu Asir," yang artinya, permudah dan jangan dipersulit".

Baca Juga: International Hijriah Food Festival, Merayakan Tahun Baru Islam 1446H Melalui Makanan dan Kebudayaan

Berita hoaks apa sih itu? Ada pula orang yang menyebut kabar hoaks itu hanyalah berita yang tidak disukai.

Terdengar  begitu rumit. Padahal berdasarkan kajian literatur berita hoaks ini sebenarnya dapat diatasi.

Sejumlah kajian penelitian, menyebut  berita hoaks adalah kabar bohong. Pengertian ini juga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Bahkan  'hoaks' dalam Oxford English dictionary, 'hoax' didefinisikan sebagai 'malicious deception' atau 'kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat'.

Tidak sedikit ahli yang menjelaskan "hoax" merupakan informasi yang direkayasa.

Rekayasa untuk menutupi informasi sebenarnya atau juga bisa diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta.

Pembuat hoaks menggunakan informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Dalam perspektif pemikiran Islam, hoaks  adalah pembohongan publik. Atau  penyebaran informasi yang menyesatkan dan bahkan menistakan pihak lain.

Baca Juga: Rebut 8 Emas, Tim Catur Indonesia Raih Juara Umum di Asean University Games 2024

Pembuat hoaks digolongkan sebagai pihak yang merugikan orang lain. Dan hoaks yang dibuatnya dikategorikan sebagai haditsul ifki atau berita bohong.

Lebih dalam berita-berita hoaks ini dampaknya sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa.

Takutnya kekuatan-kekuatan besar di dunia menggunakan pemain pengganti untuk menghancurkan persatuan Indonesia.

Contoh  praktik perang proksi telah ada sejak ratusan tahun lalu. Konflik yang termasuk perang proksi cukup mudah dijumpai pada masa Perang Dingin (1947-1991).

Beberapa contoh perang proksi yang terjadi pada masa Perang Dingin yaitu: Perang Saudara Yunani (1946-1949).

Penegakkan Hukum

Ini yang harus kita hindari dengan upaya ' penegakkan hukum bagi para pelakunya.'

Dampak dari penyebaran hoax sangat besar. Karena berita yang dikirim tanpa verifikasi bisa menjadi sumber ketidakpastian dan kebingungan.

Ini sangat membahayakan, ketika  masyarakat  tidak berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Terutama jika sumbernya tidak jelas.

Baca Juga: PLN Nusantara Power Sukses Antar PLN NPS Jadi Perusahaan Go Internasional

Disebutkan  penyebar berita hoaks atau berita bohong merupakan salah satu pelanggaran norma hukum.

Pasalnya, itu sudah tercantum di dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi.

Dan Transaksi Elektronik Pasal 28 ayat 1, yang berbunyi “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong " dan selanjutnya.

Ancaman hukumannya sudah jelas ada.  Namun praktiknya banyak pembuat berita hokas masih berkeliaran di dunia Medsos tak diamankan aparat hukum.

Sebenarnya wartawan juga bisa menyebarkan berita bohong. Jika informasi yang dirilis tak sesuai dengan fakta di lapangan.

Baca Juga: Australia Juara Piala AFF, Indonesia Ketiga Erick Thohir Yakini Tidak Kalah Kelas

Dalam perspektif seorang jurnalis, sudah pasti paham soal mana berita bohong dan berita faktual.

Jurnalis berpatokan pada rumus  <span;>5W 1H. What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (di mana), Why (mengapa), dan How (bagaimana).

Seorang wartawan profesional paham benar menjawab pertanyaan-pertanyaan  di atas secara jelas dan terstruktur dalam berita yang ia buat.

Apa: artinya berita yang  dibuat itu kejadian atau masalahnya apa saja.

Siapa:  pelakunya atau korbannya siapa. Kapan: terjadinya kapan. Di mana:  kejadian di mana.
Mengapa: mengapa peristiwa itu terjadi. Lalu Bagaiman. Di sini wartawan menjelaskan bagaimana peristiwa itu terjadi terkait sebab akibatnya.

Ketika pertanyaan 5 W 1 H ini dirumuskan  secara benar oleh wartawan dipastikan beritanya bebas hoaks.

ciri ciri berita hoaks

Menurut ahli, jika sumber beritanya tidak diketahui atau tidak dapat diverifikasi, ada kemungkinan besar itu adalah hoaks.

Baca Juga: Kalahkan Vietnam 5-0, Timnas Indonesia U16 Juara Ketiga Piala AFF 2024

Karena itu, periksa fakta: Hoaks seringkali mengandung fakta yang tidak diverifikasi atau tidak ada bukti pendukung.

Mereka mungkin menggunakan statistik palsu, gambar yang diedit, atau klaim yang tidak terbukti.

Nah untuk mengetahui sebuah informasi itu hoaks maka ini solusinya.

Gunakan situs web pengecek fakta terpercaya seperti Snopes, FactCheck.org.

Atau Hoax-Slayer untuk memverifikasi klaim atau informasi yang meragukan.

Periksa apakah informasi tersebut telah dilaporkan oleh sumber berita terkemuka.

Dari mana biasanya berita hoax dapat menyebar.

Penyebaran berita hoax sering terjadi di media sosial dan mempengaruhi pola pikir masyarakat.

Baca Juga: Kapolresta Pimpin upacara Korp Raport Kenaikan Pangkat Personil Polresta Sorong dan Brimob Yon B Polda Papua dan Pelepasan Purna Bakti

Bebasnya akses dalam membuat akun media sosial membuat banyak orang yang tidak bertanggungjawab menciptakan akun – akun palsu.

Akun-akun palsu itu  kemudian digunakan untuk menyebarkan berita hoax (bohong) ke masyarakat.

Berita hoaks terbaru, TNI Angkatan Darat membantah salah satu postingan OPM.

Postingan itu terkait Serka Rusli dibakar anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM)
bersama mobilnya di Kopo, Paniai, Papua Tengah.

TNI AD menegaskan Serka Rusli saat ini dalam keadaan sehat. Serka Rusli juga berbicara langsung lewat video.

TNI AD memberikan bantahan melalui akun Instagram resminya seperti dilihat, Sabtu (15/6/2024).

Baca Juga: Catatan Sepakbola Kualifikasi Piala AFF U16 Tahun 2024, Terima Kasih Gholy Dkk

Dalam unggahan itu, TNI AD juga menampilkan tangkapan layar akun X yang mengunggah berita bohong itu.

Kesimpulan

Dari uraian di atas  dapat disimpulkan bahwa akibat berita hoax membuat masyarakat menjadi curiga.  Dan bahkan membenci kelompok tertentu.

Menyusahkan atau bahkan menyakiti secara fisik orang yang tidak bersalah. Atau memberikan informasi yang salah kepada pembuat kebijaksanaan.

Tujuh Kategori Mis(Dis)informasi

1. Satir atau Parodi;
2. Koneksi yang Salah (False Connection;
3. Konten Menyesatkan (Misleading Content);
4. Konteks yang Salah (False Context);
5. Konten Tiruan (Imposter);
6.Konten yang Dimanipulasi (Manipulated Content) dan
7.Konten Palsu (Fabricated Content).

Rekomendasi

Cara Cerdas Mencegah Berita Hoax menurut para ahli:

1. Kembangkan rasa penasaranmu setiap saat, jangan langsung menyebarkan suatu berita tanpa mengecek kebenarannya;

2. Berhati-hatilah dengan judul yang provokatif;

3. Cari tahu keaslian alamat situs laman;

4. Periksa keaslian berita dengan mencari tahu asal sumbernya dan;

5. Laporkan ke pihak yang berkompeten agar dicari solusinya.

Terakhir, Penulis berpendapat. ' Berita Bohong atau Hoaks  Stagnan Jika Penegak Hukum Bertindak Tegas, Gitu aja Kok Repot'. ***

Sumber: Artikel terkait berita Hoaks di , detik.com, kompas.com, Tempo.com dan Referensi lain.

Penulis : Penulis: Yacob Nauly. Wartawan . Wartawan Utama versi Dewan Pers RI. Wartawan Fellowship Institud Tempo 2020. Wartawan Ubahlaku Pemerintah Pusat tahun 2019-2021. Juara 2 Kompetisi Jurnalis Indonesia BRI Fellowship Journalism 2021. Mantan Ketua PWI Perwakilan Sorong. Mahasiswa S2 Unstitut Agama Islam Negeri (IAIN). Mahasiswa S2 Universitas Terbuka (UT).

Baca Juga: Tekan Aksi Perburuan Liar, Kilang Kasim Roadshow Keanekaragaman Hayati

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat